Friday, August 23, 2013

7 LANGKAH MENJADI REPORTER

Semenjak saya menelurkan buku Cenat-Cenut Reporter, beberapa pertanyaan mengalir kepada saya. Entah itu japri ke saya atau ketika acara bedah buku di radio (bisa baca dimari atau disitu). Kalau di buku tersebut saya mengupas kehidupan sengsara para reporter and the gank, tidak jarang mereka bertanya seputar lika-liku profesinya secara lebih luas. Hhhmmm tampaknya mereka pengin terjerumus lubang nista kehidupan broadcasting… kagak usah ajak-ajak akyu yak #PeringatanDini. Bahkan, seakan tidak kapok bercita-cita menjadi wartawan walaupun tuntas membaca kisah sedihku di buku selama menjadi jurnalis. Saluuuttt *kasih dua jempol kaki gajah.

100_6389

Foto: peralatan perang berupa kamera, clip on (di dalam tas hitam kecil), dan senyum walo capek :-)



Yakin nih mau ketemu narasumber bertaring vampir?
Siap punya bos produser yang bernada ‘bariton-megaphone’?
Mau kerja bareng kameraman hobi bikin shoot nge-blur?

Tenang… pertahankan tekad kalian yak. Kalau enggak, narasumber bakal gagal narsis di tipi. Bisa juga, nanti bos tidak punya media pelampiasan emosi. Bahkan nama/wajah kalian batal nongol di tivi #Eh.

Sebenarnya, ada reporter berita, reporter features, atau reporter abal-abal. Kira-kira, saya masuk mantan reporter yang mana yak? *ngitung bulu mata. Berdasarkan takdir, saya paling lama menjabat reporter untuk acara yang bersifat features. Sehari-hari menyusun acara berdurasi 30 menit tentang kisah inspiratif, kuliner, sampai profil diri sendiri #Maksa. Nah, saya merangkum kurang lebih bagaimana jungkir baliknya reporter.

1.Passion
Setiap orang memiliki passion atau ketertarikan pada satu atau lebih bidang tertentu. Pastikan kalau reporter adalah passion Anda. Jangan gegara saya pernah mencicipi posisi reporter, Anda pengin mengikuti jejak saya ya *tiba-tiba perut terasa mual.
Kalau Anda merasa tersiksa dengan liputan, dateline yang bertubi-tubi, atau berat ketika menulis naskah, coba bertanya pada hati, “Apakah menikmati pekerjaan ini?” Bila jawabannya ‘iya’, maka welcome to the club. Andai jawaban Anda ‘tidak’, itu artinya jadi narasumber saja deh *sodorin surat pengunduran diri.

2.Mencari kontak narasumber
Usai memutuskan sebagai reporter, tugas pertama adalah mencari nomor telepon narasumber. Nah, saya pernah mendapatkan titah mencari kontak narasumber dari kalangan pesohor sampai yang sudah meninggal *tebar kemenyan.
Caranya?
-Hubungi melalui media sosialnya, umumnya mereka terbuka bila ada pihak yang hendak wawancara. Entah itu Anda akan mendapatkan nomor manajer atau nomor HP pribadi. Kecuali mereka lagi dikejar-kejar debt collector, biasanya sok sibuk, atau pura-pura sakit gigi jadi enggak bisa menjawab telepon.
-Cara kontak komunitas atau tempat pendidikan. Anda dapat menghubungi pihak sekolah bila narasumber masih berstatus pelajar. Bisa juga menghubungi kontak komunitas yang biasanya diikuti oleh narasumber. Kalau narasumbernya hobi bersembunyi di goa, pake telepon yang terbuat dari batu saja. "Ya, halo?"
-Dilarang keras pergi ke dukun yak. Mahal soalnya! #Loh.

3.Percaya diri
Ketika nomor narasumber sudah di tangan, langkah selanjutnya adalah meningkatkan tagihan telepon kantor. Berdasarkan pengalaman saya, banyak yang kurang percaya diri ketika wajib menghubungi narasumber untuk pertama kali. Umumnya reporter yang masih kinyis-kinyis atau anak-anak magang.
Alasannya…
“Kalau enggak mau diwawancara gimana?”
“Cara ngomongnya bagaimana ya?”
“Takut yang angkat anjing herdernya dulu.”
Hedeeehhh!!!
Anda harus percaya diri. Yakin dahulu kalau narasumber bakal bersedia. Kalau menolak, kasih ribuan rayuan. Katakan ada jaminan kalau wajahnya bakal masuk tipi, kamera akan mengikuti kegiatannya bak artis hollywood, atau bisa ketemu reporter kek saya *kedip-kedip kelilipan. Andai narasumber ngotot enggak mau diwawancara, baiklah, pamit baik-baik, tutup gagang teleponnya, dan… berteriaklah sepuas mungkin!

4.Supel
Seorang reporter wajib berlagak menjadi sosok supel. Walaupun Anda merasa tidak memiliki gen cerewet, terkadang kondisi memaksa Anda untuk menjelma menjadi seorang ceriwis. Coba bayangkan, narasumber adalah orang asing, dan Anda tiba-tiba datang ingin tanya ini-tanya itu. Tidak semua narasumber mau terbuka secepatnya. Kalau ketemu narasumber yang introvert gimana?
Perlu perlu adegan pendekatan ketika berhadapan dengan narasumber. Tapi engggak juga kayak mau mendekati gebetan lho. Sebelum sesi wawancara adalah momen tepat untuk lebih dekat dengan narasumber.
Misalnya: tanya soal aktifitas sekarang, pendapat dia mengenai pertumbuhan ekonomi (bila narasumbernya adalah ekonom), masih keturunan kesultanan atau enggak #hallah.
Tapi jangan bertanya, “Di rumah Bapak/Ibu ada tikusnya enggak?”
Grrr…

5.Menyelami naskah
Hubungi narasumber sudah, liputan narasumber sudah, selanjutnya adalah menyusun naskah. Kalau Anda lihat acara di tivi dan ada suara narasi, maka yang menyusun kalimat adalah si reporter. Sebelum menulis, bisa membaca naskah-naskah sebelumnya sebagai bahan referensi (asal jangan copy-paste terus cuma ganti nama narasumber). Ada tips dari bos yang masih melekat di benak saya, yaitu:
"Kalau sudah selesai, baca dan resapi kalimatnya. Kalau kamu membacanya sambil ngos-ngosan, maka potong kalimatnya. Baca tulisan seraya menjadi penonton televisi, kira-kira enak atau tidak didengar."
Kalau naskahnya enggak jadi-jadi, paling bos cuma potong gaji, rebes!

6.Melihat acara TV lain
Kalau hasil akhir liputan adalah acara televisi, ya perlu mengintip acara tivi yang sejenis sebagai bahan referensi. Lihat bagaimana pengambilan gambar, kalimat yang dipakai, baju narasumber #Eh. Kantor tempat saya bercokol dahulu, langganan tv kabel, jadi karyawannya (termasuk reporter) memiliki fasilitas bagaimana menghasilkan acara menjadi lebih menarik. Diharapkan semua tim memahami perkembangan acara tipi di dunia. Walaupun…. sebenarnya… sesungguhnya… saya lebih memilih channel H*O, F*X Movie, MG*M aka numpang nonton film bagus dan gratis *motto anak kos.
(Sssttt jangan ditiru ya, wahai calon reporter, kecuali enggak ketahuan sama bos *tos)

7.Keep in touch
Ketika hasil liputan akan tayang di televisi. Wajib menghubungi narasumber dahulu.
“Halooo besok wajahnya nemplok di tipi lho.”
Biar narasumber, bapaknya, ibunya, kakakknya, adiknya, asisten rumah tangganya, tikusnya… pokoke semua pada nonton.
Sesudah itu, tetap menjaga hubungan baik dengan narasumber. Bisa jadi, suatu hari bos menyuruh Anda menghubungi narasumber itu lagi, atau butuh kontak seseorang yang kebetulan teman SD-nya narasumber, atau… dapat jodoh hihihi #PengalamanPribadi.

Bagi yang pengin tahu kehidupan apes reporter, sila bawa buku Cenat-Cenut Reporter ke kasir toko buku ya. Jangan nyasar di toko bangunan, kagak ada. Dan, semoga bermanfaat tips dari sang mantan reporter teladan ini *tsaaahhh.

Foto: cover buku Cenat-Cenut Reporter

Cover Depan Cenat cenut Reporter

47 comments:

  1. hahaha seru ya mbak wuri, gak kebayang dapat narsum bersuara bariton megaphone

    ReplyDelete
  2. cool...
    presenter sepakbola cakep-cakep dan cerdas-cerdas lhooo...
    :)

    ReplyDelete
  3. Fotonya mantap, bener-bener siap tempur :)

    ReplyDelete
  4. Fotonya mantap mbak, dah siap tempur nih

    ReplyDelete
  5. makanya coba dulu jadi reporter :-)

    ReplyDelete
  6. Saya pengen mencoba jadi reporter, kalau gak ada background di bidang itu masih bisa mbak? :D , apalagi reporter jalan " atau kuliner tuh mantep kayanya hehehe

    ReplyDelete
  7. Saya maunya jadi narasumber ehehehe... ee.. tapi ada jg reporter yg nyebelin. Udah wawancara sejam, hasil wawancaranya gak dimuat. Hfff

    ReplyDelete
  8. bisa, beberapa temanku juga bukan alumni komunikasi kok

    ReplyDelete
  9. eh, aku pernah jadi reporter seperti itu. mau tahu respon narasumber-nya? ada di buku Cenat-Cenut Reporter hahaha #TetepPromo

    ReplyDelete
  10. hahhahaa siip... ada tikusnya apa nggak?? (nggeblak)

    ReplyDelete
  11. seru banget ya mbak> daridulu aku kepengen juga jadi reporter, sayang belum kesampean juga hiks.... :(

    ReplyDelete
  12. yang lebih penting adalah enjoy dengan pilihan sekarang :-)

    ReplyDelete
  13. halah, masih banyak di luar sana yang lebih pantas di-salut-i :-)

    ReplyDelete
  14. Wuiih keren nieh, kayaknya aku juga punya passion nieh kak, mulai cari stasiun tipi.

    *mana mana?

    ReplyDelete
  15. sip, jangan nyasar stasiun kereta api yak :)

    ReplyDelete
  16. thanks you some

    ReplyDelete
  17. maaf Mbak, menyambung yg di atas.
    kata Mbak, ''kita bisa jadi Reporter walaupun tidak dari alumni komunikasi''???
    memangnya kalo abis lulus dari SMA bisa??
    terus, kriteria jadi reporter yg tidak dari alumni komunikasi itu bagaimana saja Mbak??

    ReplyDelete
  18. Hhhmmm... setahuku jadi reporter minimal S1 atau D3.
    Kriterianya apa ya? *mikir sok serius, hihihi, mungkin minimal tahu dulu gimana pekerjaan reporter itu.

    ReplyDelete
  19. tapi sekarang banyak yang hanya smp aja bisa jadi wartawan,

    ReplyDelete
  20. Oh ya? saya belum pernah bertemu sih ^^, bagus kalo gitu *sip.

    ReplyDelete
  21. kak, kalo pengen jadi wartawan kuliahnya jurusan apa ya??

    ReplyDelete
  22. Sebenarnya jurusan apa saja bisa, tetapi lebih baik Ilmu Komunikasi :)

    ReplyDelete
  23. Bagaimana caranya agar bisa jadi rporter kak. ??? dan kalo dijakrta dimana Production apa? bagaimana juga cara melamarnya, apa harus ada kenalan, relasi atau apalah yang bisa dijadikan jembatan agar apa yang kita maksud bisa nyebrang dan sampai kesana!

    ReplyDelete
  24. Bisa googling daftar rumah produksi lalu kirim CV. Tidak harus punya relasi kok :-)

    ReplyDelete
  25. dr stasun tv mana si

    ReplyDelete
  26. kk,aku pingin bgt jdi reporter,tp aku org nya gk percaya dri bgt .. ngomong aja susah kalo gk ada bhn ..

    ReplyDelete
  27. kk,kalau jdi reporter hrs menguasai bhs inggris ya ??

    ReplyDelete
  28. Gpp, selama kamu mau dan siap belajar. Nanti lama-lama pedenya muncul :-) oke yaaa

    ReplyDelete
  29. Enggak harus, tapi sangat dianjurkan sih, cemunguuud ya

    ReplyDelete
  30. Assalamualaikum ,,
    mbak,
    apakah menjadi reporter itu harus bependidikan tinggi terlebih dahulu ..??

    ReplyDelete
  31. Beberapa minta minimal S1 atau D3. Tapi ada juga yang tidak kok.

    ReplyDelete
  32. Kayaknya saya punya passion reporter nih. Asyik. Tapi saya takut tikus mbak, gimana dong? *galau

    ReplyDelete
  33. seru…!! makaseh yah tips nya. kebetulan sekarang sy gabung di tv lokal (tv keluarga, hehehe ) saya marketing tapi disuruh jd presenter pegang 1 program, tp ko kayanya ga asek yah, paling temenannya sama kru program ajah, enakan jd reporter lapangan, seru, temen2nya juga asiik-asiik!! dulu suka ngeMC tapi dah lama banget, makanya tulisannya berarti banget …makaseh yah,,,,
    eh, iya , sumpah foto lagi nenteng kamera itu, adalah pose paling keren itu juga buat yg pengen jd wartawan seh…hehehehe….. thanks yah..kapan-kapan maen ke sini…liat studio mini kita….

    ReplyDelete
  34. mbakkkk bukunya masih ada gak ya? pengen banget baca :)

    ReplyDelete
  35. @Mutia: masih ada, bisa pesan di sy langsung

    ReplyDelete
  36. mbak wuri bisa minta cp nya?? saya ingin berdiskusi sm mbak.. no saya 085640062509

    ReplyDelete
  37. @jole: bisa via email atau inbox fb, ya, trims

    ReplyDelete