Friday, February 28, 2014

Tips Menendang Virus Writer’s Block

Writer’s block atau kebuntuan ketika menulis, kerap kali menjadi momok bagi penulis. Entah itu menulis buku, media massa, blog, diary, batu prasasti, tembok kelas, bangku bis kota, eh. Terlebih lagi menulis sudah menjadi pekerjaan yang menuntut kehadiran deadline. Atau lomba penulisan yang memaksa selesai-tidak-selesai-harus-dikumpulkan sebelum batas akhir, awas yang telat bakal kena ceples Bapak/Ibu guru. Ough! Rasanya ingin meminjam pintu ajaib Dora*mon, agar kembali ke masa jauh sebelum tenggat waktu pengumpulan tulisan.
Eee… di mana bisa beli robot kucing dari abad 22 itu ya?

“Puss… puss.” *tebar ikan asin.

Baiklah! Karena saya sudah keluar-masuk pasar, lompat dari satu genteng ke atap rumah tetangga lainnya, hingga nongkrong di salon hewan, dan belum menemukan Si Puss keluaran pabrik Jepang itu, akhirnya saya harus menendang sendiri virus mematikan itu, ciaaat!

Kurang lebih saya melakukan lima hal di bawah ketika writer’s block mulai pedekate ke saya: huh!

Ingat Cicilan

Beberapa orang menilai pekerjaan menulis adalah untuk duit *kedip-kedip lenjeh. Sisanya bisa untuk kesenangan pribadi, mengekspresikan pikiran, atau mencuri perhatian gebetan, eh. Pasti dong, tulisan muncul di majalah, terus dapat uang. Mengikuti lomba blog dan menang, lalu saldo rekening bertambah. Atau menelurkan buku, bakal dapat duit lelah ketak-ketik naskah dari royalti.

Kalau lagi malas menulis, coba ingat cicilan. Mulai KPR, membayar kartu kredit, sampai kredit panci yang masih kurang tiga bulan lagi, ups. Kalau ingat hutang, pasti jadi terpacu menulis demi sekarung recehan, krincing… krincing

 #EdisiSokTajirPadahalDuitSewaan

Demi Gebetan

Kalau gebetan Anda menggemari seorang penulis, atau mengikuti blog tertentu, atau tengah belajar menulis, manfaatkan momen ini sebagai motivasi. Anda jadi lebih semangat menulis, plus mencuri perhatian si dia.

Lagi suntuk menulis? Coba bayangkan kalau Anda produktif, kelak menelurkan beberapa karya tulisan, yang bisa jadi dibaca oleh si dia. Pasti dong ada kebanggaan tersendiri ketika jerih payah Anda mendapatkan apresiasi dari sang gebetan, uhuk. Yuk, menulis dan buktikan kepada dia kalau Anda adalah penulis sejati. Pokoke pantang menyerah! *nyomot bambu runcing si Mbah.


 #Uhuk... uhuk...
Modal Menulis

Hari gini, pasti banyak yang menulis dengan menggunakan komputer, laptop, atau tab. Walaupun masih ada yang menulis menggunakan tangan, lalu mengetik di warnet, it’s okay. Apapun medianya, perangkat menulis itu merupakan salah satu modal bagi penulis.

Seketika rasa malas menulis datang, maka coba ingat, berapa jumlah uang yang sudah Anda kucurkan. Pasti tidak ingin duit itu terbuang sia-sia. So, manfaatkan perangkat menulis itu secara maksimal. Tidak jarang, justru balik modal ketika karya kita sudah muncul plus bonus duit maning… duit maning… Kalau perlu, tempel bukti-pembayaran-yang-menguras-isi-rekening itu di jidat!


#BukanKomputerMilikSaya. Foto diambil di sini.

Baca Lagu

Eit, maksud saya adalah memanfaatkan buku sebagai bahan bacaan atau lagu yang menggugah proses Anda menulis. Banyak orang mengakui, aktifitas menulis tidak dapat lepas dari buku dan musik. Itu benar, karena saya juga seperti itu.

Ketika mood menulis menukik turun tajam, coba membaca buku yang se-genre. Lagi menulis komedi, coba membaca buku-buku lucu. Jangan membaca novel romance yang bikin mata kayak melototin buku tabungan minim saldo, huhuhu... Bukannya membuat tulisan yang mengocok perut, tetapi malah menyolok mata, pediiih!

Yang lagi menulis komedi, bisa intip bentuk menulisnya di buku Cenat-Cenut Reporter *taelah.



Begitu juga musik, ibarat soundtrack dalam film, proses menulis berteman dengan lagu yang mendukung, kian meningkatkan geliat menulis. Asal, lirik lagu tersebut cukup mewakili isi cerita. Misalnya: Anda tengah menulis novel patah hati, coba dengar lagu Lumpuhkanlah Ingatanku, atau It’s Hard To Say Good Bye, de-el-el. Asal jangan lagu Diobok-obok yak! *catet.

ZZZ…

Sudah ingat cicilan, menatap foto gebetan, menempelkan bon laptop di dinding, sampai pasang speaker megaphone buat mendengarkan lagu, tetapi masih aja malas menulis. Pilihan terakhir adalah… bobok dulu deh. Istirahat. Mungkin otak membutuhkan relaksasi. Jangan Anda paksa berputar terus. Siapa tahu, dapat wangsit dari alam mimpi? Bangun tidur, bodi segar, dan cuaca di luar gerimis *tarik selimut! #Loh?


Maaf ye, mungkin tipsnya agak berbeda dengan yang umumnya. Mungkin, penulis lain lebih memilih mengingat kembali motivasi menulis, berlibur, kopdar dengan komunitas, dll. Kali ini, saya hanya mencoba memberi jalur lain dalam menendang virus writer’s block. Selamat mencoba bagi yang khilaf.

Salam Mantan Reporter Yang Mengaku Teladan *muach.

17 comments:

  1. hahaha... tipsnya asik mbak... makasih yaaa!

    ReplyDelete
  2. hihi..menarik mak tipsnya :) paling sip yg terakhir mak, kalo udah buntu ya tidur dulu aja siapa tau dapet ilham di dalam mimpi :p

    ReplyDelete
  3. Aku nggak bisa pake semua tipsmu ini beibeh, gak match semua. Apalagi yg ngejar recehan tadi, gak lepel pake banget. Aku ngejar yg lembaran merah boooo hihihiii...
    Itu komputer sapa siiiihh... bole pinjem sini tak? apik tenan loh :p

    ReplyDelete
  4. Hehe kalo mentok ya istirahat ajah :-)

    ReplyDelete
  5. Wooo tukang rusuh datang. Kuwi komputer-e Si Mbah. Mbuh, Mbah sopo.

    ReplyDelete
  6. Mbak kalo mau manggil doraemon, sediain-nya jangan ikan asin, gak lepeeeel kata mbak Uniek beliin dorayaki gih *salah fokus*

    ReplyDelete
  7. Haha bener juga, sik, sy cari dorayaki dulu ya :-)

    ReplyDelete
  8. qiqiqi.....tips terakhir setiap hari menghampiri diriku....dan langsung bablassss....

    ReplyDelete
  9. eciyee ada lope-lopenyaaa, aku juga suka baca2 ulang bukumu mak, secara pengen nerbitin buku smacam ituuh

    ReplyDelete
  10. Semangat, Mak! Bisha Bisha Bisha *sampe berBusha

    ReplyDelete
  11. Hidayah SulistyowatiMarch 3, 2014 at 2:30 PM

    Hahaha...dua yang terakhir cocok buat dakuwww ;D

    ReplyDelete